Kudeta Taliban di Afghanistan, Ken Setiawan: Kelompok Pengusung Khilafah, Indonesia Berikutnya

Berita, Lampung – Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center melihat sisi lain penguasaan wilayah Afganistan oleh kelompok Taliban.

Ken Setiawan mengatakan, bahwa kelompok teroris Taliban berhasil menggulingkan Presiden Afganistan, Ashraf Gani, dengan menguasai Kabul, Minggu, 15 Agustus 2021, mirip dengan yang pernah dilakukan Front Pembela Islam (FPI) di Indonesia.

Dalam rilis yang di terima oleh redaksi, Ken mengatakan bahwa Kelompok Taliban itu mayoritas pasukan perang, sama seperti Front Pembela Islam yang aktifitasnya dilapangan seperti demo, anarkisme atas nama agama.

Bedanya, pemerintahan Presiden Afganistan, Ashraf Gani yang didukung Amerika Serikat, tidak melakukan perlawanan saat Taliban bergerak menguasai Kabul, Minggu, 15 Agustus 2021, tapi di Indonesia, FPI dibubarkan Pemerintahan Presiden Joko Wododo, sejak Rabu, 30 Desember 2020.

Di Indonesia, pentolan FPI, Muhammad Rizieq Shihab menyerahkan diri ke Polisi Daerah Metropolitan Jakarta Raya, Sabtu, 13 Desember 2020, dan Munarman ditangkap Detasemen Khusus Antiteror 88 Polisi Republik Indonesia, di Banten, Selasa, 27 April 2021.

Pembubaran FPI, sebagai tindaklanjut penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017, tentang: Pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

“Kelompok Taliban sejatinya adalah pengikut mazhab Hanafi dalam fiqih, Maturidi dalam akidah, dan pengikut tarekat dalam tasawuf. Namun mereka menjadi radikal karena terpengaruh paham dan kebangsaan ajaran Salafi-Wahabi” Ujar Ken

Tambahnya, penguasaan Afganistan oleh Taliban saat ini, tidak bisa di lihat sebagai kekalahan Amerika ada sesuatu di belakang itu.

“Amerika bukan kalah, tapi mengalah demi menyusun strategi untuk mengelola Afganistan jangka panjang kedepan, kemungkinan juga ada main mata antara mereka dengan pemerintah afghanistan yang tiba tiba menyerah pada Taliban” ungkap Ken Setiawan

Tambahnya, Di Indonesia itu ada FPI yang pemahaman dan akidahnya sebenarnya bagus yaitu Aswaja, tapi terkontaminasi oleh paham salafi wahabi yang akhirnya wawasan kebangsaan berubah jadi radikal.

“Para pentolan FPI ini berkumpul dengan kelompok Salafi Wahabi, dan hampir semua pelaku terorisme di Indonesia latar belakang pemahaman adalah NII dan salafi wahabi” ungkap Ken

Ken juga melihat ada yang menarik di Indonesia setelah Taliban menguasai Afganistan, sebab beberapa kelompok pengusung Khilafah di Indonesia, seperti NII, FPI, HTI, Ikhwanul Muslimin dan yang lainya turut berpesta seolah ini juga kemenangan mereka, dan mereka juga yakin akan membuat hal yang sama seperti Afganistan di Indonesia.

Sementara ini menurut Ken, kelompok paham intoleran dan radikalisme nama agama memang belum terlalu dianggap bahaya oleh negara, kecuali sudah melakukan tindakan teror baru akan ditindak oleh aparat karena memang payung hukumnya yang lemah.

“Padahal disinilah akar permasalahnya Terorisme itu Ibarat buah disuatu pohon, bila akarnya tidak dicabut, maka tiap musim pohon itu akan berbuah” Tutup Ken. (KS| RED)