Kolom  

Sporing ke Tanjung Balai (Cerbung Bagian 4)

BERITA, JAKARTA – Perlahan seorang lelaki muda dengan jaket kulit hitam turun dari mobil, dan berjalan menghampiri kedai depan rumah Dedi. Ciut juga nyaliku ngelihatnya wak, panik, lutut lemas, detak jantung berhenti. Gawat! Akhirnya, sampai di sini saja, pikirku. Bergegas kubangunkan kawan-kawan dari tidur lelap mereka.

“Kimbek kau lah per, pucat awak kau bikin, cuma beli rokok pun dia rupanya,” kata Udin yang napasnya tersengal saat kubangunkan dan beri tahu ada intel di depan rumah. Sementara yang lain panik dan pasrah untuk ditangkap malam itu.

Biar kelen tau wak, badan tegap, jaket kulit, plus bawa mobil, mukanya tampang intel, Ya kubangunkan lah kelen. Mana tau aku pula dia cuma beli rokok. Gara-gara si latteung itu jadi pucat kita semua, akhirnya kami semua menarik nafas panjang.

Dalam pandanganku, juga pandangan kawan-kawan, situasi ini memang mencekam. Gerakan mengalami ‘Crack Down‘. Sama seperti kami, hampir semua aktivis gerakan prodem mengalami kekuatiran, was-was, panik. Mereka pun bingung akan apa yang perlu dilakukan.

“Per, cok ko kontak dulu Bang Alamsyah Hamdani, tanya ke dia apa kita masih jadi target pengejaran aparat!” pinta Wigi memecah lamunanku. “Informasi dari dia nanti jadi bahan kita untuk langkah ke depan,” Wigi melanjutkan saat kami kumpul di rumah kost Udin di Amplas.

Di tengah kebingungan saran Wigi cukup rasional juga pikirku, “Ok Bung, tapi aku sama Kamal lah piginya, ngeri juga awak kalau jaĺan sendiri,” ku minta sama Wigi. “Ya udah terserah kau lah,” kata Wigi sambil mengangkat bahunya, entah apa artinya.

Malamnya aku pun jalan sama Kamal ke simpang Amplas menuju warung telepon (Wartel), agak was-was juga, kuatir entah tiba-tiba kami disergap di jalan. Iya kolok jelas ditangkap dan dipenjara, tapi kolok kami dihajar di jalan, atau ‘diculik’, hilang kami tak tau rimbanya. Jangan sampe begitulah ya Allah, doaku dalam hati.

Untuk urusan otak-atik wartel. Kamal ini paling lihai wak, dia bisa ngobrol berjam-jam hanya dengan modal tali kawat, luar biasa pakcii satu ini memang, entah dimana dia belajar ilmu itu.

“Assalamualaikum Bang, Ikhyar ini bang,” aku mulai bicara di depan gagang telpon. “Ikhyar mana?” terdengar jawaban Bang Alamsyah. “Ikhyar SMID bang,” kataku. Terkejut juga Bang Alam saat ku sebut namaku, bang Alamsyah lalu bertanya agak pelan, “Kalian sehat? Apa cerita?” tanya Bang Alam.

Aku pun kemudian bicara lebih lanjut, “Sehat bang, kek mana kondisi saat ini bang? Apa masih ada pengejaran? Siapa siapa saja target mereka ya bang? tanyaku bertubi tubi.

“Abang pun posisinya gak bisa bebas Yar, mereka setiap hari datang ke LBH dan tanya-tanya tentang kawan-kawan aktivis, khususnya yang tergabung dengan PRD. Kalian target mereka itu. Abang bingung juga, karena hampir semua kesatuan ikut ngejar kalian, sepertinya tak saling kordinasi,” begitu info Bang Alamsyah yang membuat semakin ciut nyaliku.

“Gini aja, kalian sembunyi aja dulu! Nanti kalau ada perkembangan abang kasih kabar,” kata Bang Alam kasih arahan dan janji di akhir telepon.

“Yok Mal, pulang kita! Kuajak Kamal yang sedang mengawalku saat sedang telepon. Udah macem Paspamres ku tengok, karena pengawàlannya sudah sesuai protap hihi.

“Apa kata Bang Alamsyah Per?” Kamal tak sabar ingin tau isi cakapku dengan Bang Alamsyah. “Nanti aja kita bahas di sekre!” ujarku sambil keluar dari wartel dengan menoleh kiri kanan. Parahlah pokoknya saat itu, paranoid kali kami wak, selalu ada perasaan was-was diikuti.

Pembicaraan ku dengan Bang Alamsyah membuat perasaan kuatir ini berkurang.

Alamsyah Hamdani adalah Direktur LBH Medan. Sosoknya pintar, rendah hati, dan banyak menolong. Kelak Alamsyah Hamdani menjadi salah satu politisi yang piawai di Sumut, seorang legislator, anggota DPRD Sumut dari PDIP.

Di bawah kepemimpinannya LBH Medan merupakan salah satu sentral gerakan di Medan. Kawan-kawan aktivis sering ngumpul dan nongkrong di sana. Selain sering dijadikan tempat diskusi, rapat-rapat, juga tempat istirahat para aktivis ketika selesai aksi di DPRD Sumut, kebetulan jaraknya tidak terlalu jauh.

Makanya LBH ini selalu ramai setiap harinya, bahkan Intel juga selalu nongkrong di sini untuk mencari imformasi. Tak heran Bang Alamsyah Hamdani ini populer di kalangan aktivis, sekaligus di kalangan intel. Thanks ya abanganda atas bantuannya ke kawan kawan-kawan aktivis. Terutama kepada kami, geng PRD, yang sedang dirundung kegalauan.

Salut dan hormat juga bagi staf LBH, mereka bukan hanya sigap mengadvokasi aktivis yang ditangkap dan mendapat kekerasan dari aparat, tetapi juga bantu kami jika kehabisan ongkos atau lupa makan siang. Bukan lupa seh, tepatnya gak ada duit untuk makan siang.

LBH ini pernah mendapat teror molotov dan hendak dibakar oleh sekelompok OKP. Saat ada pertemuan dan rapat pembentukan Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) yang dihadiri aktivis, senior NGO serta beberapa orang akademisi Kampus. KIPP ini merupakan front politik yang dibentuk untuk mengawal pemilu 1997.

Saat rapat berlangsung sekitar satu jam, terdengar teriakan orang demo di depan kantor LBH, mereka minta agar kami segera menghentikan dan membubarkan diri sambil teriak dan memaki maki kami yang berada di dalam ruangan LBH sebagai antek asing, komunis, subversif dan segudang caci maki lainnya.

Peserta pertemuan yang berjumlah sekitar 30 an mulai panik. Tetapi mereka tetap bertahan di dalam gedung LBH, hingga akhirnya terdengar lemparan batu dan molotov mengenai kaca dan dinding kantor LBH.

Tak lama kemudian aparat kepolisìan datang disertai puluhan intel gondrong berpakaian preman membubarkan pertemuan kami.

“Bung Wigi, menurutku saat ini kita mesti berpencar aja dulu, sambil melihat situasi ke depan! Kolok kita kumpul terus kayak gini, kita bisa malah tertangkap semua. Kolok pencar, justru lebih aman. Setidaknya kalaupun tertangkap tidak semua. Kondisi ini kan seperti yang sering bung bilang, apa istilahnya itu ‘one step forward two steps back? Ya macam itu lah. Satu langkah maju dan dua langkah mundur,” candaku ke kawan kawan sambil melirik Wigi.

Wigi ini memang pandai menyambungkan keadaan dengan teori. Meneorikan keadaan, ah macam itulah. Udah segudang buku yang dia baca wak, ada aja teorinya kalau cakap sama kami.

Acun pun menimpali ucapanku, “Betul juga yang dibilang Cesper itu Nyo.” Acun memang lebih suka manggil dia begitu, frase terakhir dari Wignyo yang memang nama aslinya. Entah mungkin sudah kenal lama, lebih lama dari aku.

“Lagi pula tak ada juga yang bisa kita lakukan saat ini, kita cooling down aja dulu. Apalagi semalam Cesper teleponan sama Bang Alamsyah, katanya yang ngejar bukan cuma satu kesatuan, tapi beberapa kesatuan yang berbeda dan tak saling berkordinasi, bahaya itu, awak pun jadi takut cuy.”

“Ya sudah, aku seh ok aja, gimana yang lain?” tanya Wigi sambil memandang satu persatu Aswañ, Kamal dan Udin. Mereka pun serempak menjawab sepakat. Lalu diskusi pun berlanjut mengenai strategi komunikasi, sentral informasi dan struktur kurir atau penghubungnya.

“Per, kita bertiga sama Aswan besok ke Tanjung Balai ya, ke tempat Tanteku. Di sana enak cuy, kita bisa istirahat dan makan kerang, mantaplah pokoknya,” rayu Acun karena dilihatnya aku masih bingung mau sporing kemana.

“Cocok juga Cun, nanti kita di sana mampir ke rumah Fadly Nùrzal wak, kudengar dia lagi pulang kampung,” aku sepakat dengan usulnya Acun.

“Aku sempat pigi ke Yogya Per, ternyata di sana juga menceķam dan aku tak jumpa kawan kawan, terus aku balik ke Pekan Baru,” kata Imran menjelaskan.

“Terus pigi kemana pakcik? Soalnya pakcik agak lama menghilang dan kami kehilangan kontak,” kutanya lagi Imran

“Waduh panjanglah ceritanya Per, setelah mutar-mutar di Pekan Baru, akhirnya kuputuskan pigi ke Sebrang Kuala Tungkal, daerah Tanjung Jabung Jambi Barat tempat familiku. Agak lama aku di situ, bahkan sempat kerja buat Kopra Kelapa aku di sana wak. Setelah itu aku mulai bosan dan cabut ke Batam. Setelah kupikir agak kondusif, baliklah aku ke Siantar wak. Pokoknya pahit kali lah waktu itù pakcik,” cerita Imran ke aku.

Tapi rasa penasàranku belum habis, “Terus apa kegiatan uwak setelah itu? Soalnya pasca 27 Juli setelah kami lepas dari tahanan Gaperta dan udah pada kumpul, uwak masih belum kordinasi?” tanyaku lagi ke Imran.

“Sekitar 3 atau 4 bulan pasca Kudatuli, kira-kira bulan November lah, sebenarnya aku sempat balik ke Medan, masuk Kampus IAIN per, niatnya seh mau lanjut kuliah,” kata Imran.

“Terus kenapa gak jadi?” kutanya balik Imran. “Ente ini macam gak tahu aja, atau pura-pura lupa. Kan setelah kudatuli kita dipecat wak.”

Ah aku baru ingat, tercapai sudah lah niat si Wigi ini membuat kami terlempar dari kampus, jadi aktivis. Sukses kau ya wak !

“Sebenarnya Dekan Dakwah waktu itu mengusulkan agar aku pindah saja ke kampus lain, itu bisa diurus, dari pada dipecat katanya waktu itu Per,” jelas Imran.

“Akhirnya,” kata Imran, “Aku kembali kuliah di STAI SAMORA Siantar. Sekarang awak masih mahasiswa, kalian kan udah gak jelas,” seloroh Imran seperti meledek aku.

Tepat jam 7.00 pagi, kereta api berangkat menuju Tanjung Balai dari stasiun kereta api Medan. Bandar Klipah, Batàng Kuis, Araskabu, Lubuk Pakam, Tebing Tinggi, Bandar Tinggi, Perlanaan, Lima Puluh, Sei Bejangkar, Kisaran. Stasiun-stasiun kecil yang kami lewati.

Sejenak bisa menghilangkan rasa was-was dan kegundahan kami. Hampir dua minggu kami berada di Kota kerang tersebut.

Sesekali kami berkunjung ke Rumah Fadly Nurzal, yang kebetulan tak jauh dari rumah tante Acun.

Masih ingat Fadly Nurzalkan? Fadly adalah temanku di Pesantren Darul Ulum Kisaran yang menjadi lawan kami saat pemilihan Ketua Senat Mahasiswa Fakuktas Syari’ah beberapa waktu yang lalu sebelum peristiwa Kudatuli.

Apo kabar Yar,” kata Fadly dengan logat melayu Tanjung Balainya. Dialek Tanjung Balai hurup ‘R’ tak pernah jelas terucapkan, dan hurup ‘O’ selalu dominan dalam setiap kata. Agak susah juga awak menuliskan dialek Metal (Melayu Tanjung Balai) dalam cerita ini, jadi maklumi ajalah ya woi.

“Kudengar sporing uwak sekarang yo,” Fadly berseloroh. “Mak, ini si Iyar kawanku di IAIN, dulu pernah sama juga kami di pesantren Darul Ulum kisaran waktu Aliyah,” kata si Fadly ke emaknya.

“Biasa itu, namanya juga aktivis. Anak muda itu harus berani, saya dukung kalian.” Aku dan Acun terkejut juga mendengarnya. Ternyata Fadly sudah kasih tau emaknya kondisi kami sebelum datang ke rumahnya. Emak Fadly sangat ramah serta punya wawasan yang sangat luas tentang politik dan situasi terkini. Hal ini tidak membuatku heran, emaknya Fadly itu Ketua DPRD dan juga ketua PPP Tanjung Balai, salah satu Partai yang juga dizalimi Orde Baru.

Beliau sangat pemurah dan dermawan. Saat kami hendak permisi pulang, kami disalamkan beberapa amplop, untuk tambah-tambah ongkos katanya. Tapi bukan karena itu awak bilang dia baik cuy. Kepada semua orang juga begitu kudengar.

Saat di jalan kami buka amplop pemberian emak Fadly, aku sumringah dan bilang ke Acun, “Banyak juga cuy, cukuplah untuk makan dan compil kita sebulan.” Compil itu merek rokok terpopluer di Medan, kependekan dari Commodore Filter. Terima kasih buat ketua Fadly, wabil khusus buat Emak Al fatiha “Allahummaghfirlaha warhamha, wa’aafihi wa’fu’anha, waakrim nuzulaha” , Amin Ya Allah.

Bersambung ….

Penulis: M. Ikhyar Velayati | RED