HMI Pandeglang Nilai Pemda Gagal Dalam Pengelolaan Objek Wisata

Iklan Beritarya.id

Pandeglang– Aktivis Mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam HMI Cabang Pandeglang angkat bicara soal polemik yang terjadi di kalangan masyarakat kabupaten pandeglang, Kamis, 27/04/2023

Hari raya Idul fitri hari yang di tunggu-tunggu umat muslim di dunia, untuk dapat berkumpul muwajahah bersama keluarga yang dimana sejak pada tahun 2019-2022, terjadinya penyebaran pandemic COVID-19 di Indonesia, masayarakat tidak bisa melakukan mudik lebaran, karena adanya larang mudik oleh pemerintah karena adanya penyebaran virus tersebut, maka tahun ini 2023 pandemic telah usai dan masyarakat Indonesia begitu senang karena bisa berkumpul dengan sanak keluarganya,  kamis 27/04/2023

Momentum ini yang menjadi kan momentum tahunan dan menjadi budaya masyarakat pada umumnya, untuk melakukan hiliing atau refresing bersama kerabat, sanak, dan keluarganya ke tempat-tempat wisata yang ada di daerah nya masing-masing

Sebut saja salah satu wilayah yang ada di Provinsi Banten yaitu kabupaten pandeglang, karena kabupaten ini mayoritas masyarakat nya itu merantau di beberapa daerah, bahwa pandeglang dengan Branding yang bertuliskan “Selamat Datang di Kota Wisata Pandeglang, Ini menjadikan masyarakat pandeglang untuk dapat berwisata di kampung halamannya,” Kamis 27/04/2023

Hal ini menjadikan harapan besar masyarakat pandeglang, ketika pulang ke kampung mereka bisa liburan dengan biaya yang ringan dan bisa terjangkau apalagi tempat- tempat wisata yang ada di daerahnya kabupaten pandeglang -Banten,’

Tapi sayang ternyata biaya wisata di pandeglang – banten melambung tinggi cukup mahal dan sangat fantastis baik dari tiket masuk, parkiran kendaraan, serta disinyalir banyaknya oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab di tempat wisata tersebut baik yang di kelola oleh pemerintah daerah ataupun pengusaha (swasta).

Entis Sumantri selaku ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pandeglang sekaligus Civil society di kabupaten pandeglang angkat bicara, menyoroti polemik yang terjadi di kabupaten pandeglang, kami sudah melakukan investigasi dan studi banding di beberapa wilayah Kabupaten kota yang ada wisatanya.

Entis mengatakan dari investigasi yang kami dapatkan banyaknya tempat wisata di pandeglang, yang jauh dari rasional bagi masyarakat kelas terendah hingga menengah, dalam penerapan tarif harga tiket.

“Yang lebih parahnya di duga banyak oknum- oknum yang tidak bertanggung jawab dalam pengelolaan wisata sehingga terjadi kecurangan-kecurangan bahkan pemungutan liar terjadi, terhadap masyarakat atau wisatawan lokal yang mau berkunjung ke tempat tersebut, ” Ungkapnya

Entis menambahkan bahwa Ini menjadikan tolak ukur kami bahwa terjadi nya kegagalan pemerintah, baik dalam tatanan yudikatif, legislatif dan Eksekutif, dalam menjalankan tugas dan fungsinya, karena kabupaten yang memiliki Branding yang bertuliskan “Selamat Datang di Kota Wisata Pandeglang” yang terpampang di jalur Pandeglang-Labuan itu hanya harapan palsu bagi masyarakat pandeglang.

Ketua Umum yang biasa di sapa tayo masih mengungkapkan bahwasanya, seharusnya pemerintah daerah khususnya Dinas terakait Dinas Kebudayaan dan pariwisata kabupaten pandeglang, harus mempunyai konsep dan gagasan untuk wisata-wisata yang ada di pandeglang jangan sampai terkesan pembiaran terhadap wisata yang ada di kabupaten pandeglang,”

Bupati pandeglang serta Dinas pariwisata harusnya hadir dalam hal ini, bukan hanya dalam pengaturan regulasi tarif saja, tapi lebih pada pelatihan pengelolaan objek wisata supaya ramai tiap harinya tidak hanya pada hari raya idul fitri saja dan liburan tahunan saja, tapi setiap hari ramai sehingga dapat menarik wisatawan non lokal atau mancanegara agara dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah PAD kabupaten pandeglang,” tandasnya

Jangan hanya selogan atau Branding saja tapi harus berikan inovazia del new atau Inovasi baru untuk wajah wisata pandeglang, serta aparat penegak hukum pun jangan sampai tahun ke tahun hanya rekasa lalulintas saja yang di gunakan ketika idul fitri maka harus benar – bener di tingkatkan lagi pengaman terhadap wisatawan dan masyarakat pandeglang yang ada di tempat wisata,” Tutupnya Ketua Umum

Senada dengan Ketua Bidang Hukum, HAM & LH HMI Cabang Pandeglang, menyampaikan dari hasil yang kami temukan adanya beberapa tempat wisata yang diduga sangat mahal dan fantastis serta masih semrawut nya pengelolaan tempat tersebut, ” Katanya

Lanjut agung lodaya wk mengatakan sebut saja pantai tanjung lesung, pantai Cinta, pantai carita Baka – baka, pantai pasir putih, karibea kerakatau Restor, Bendungan Cikoncang Cikeusik, pantai cinta, batu hideng dan masih banyak tempat lainya di pandeglang yang masih butuh pembinaan dan penataan baik secara regulasi dan aturan yang ada, secara tidak langsung telah mencederai Velues dan Norume, ”

Salah satunya Pantai Cinta pasang Tarif harga tiket Masuk lumayan Fantastis, yang mana sesuai hasil Informasi didapat, bahwa untuk Kendaraan besar jenis Bus tarip masuknya sebesar 500.000 Rupiah belum lagi farkir, pantai Baka – Baka pun sama memberikan tarif kepada wisatawan 100.000 Rupiah/ Mobil jenis sedan belum lagi farkir, tanjung lesung menerapkan tarif 40.000 Rupiah/ orang belum lagi farkir, dan masih banyak tempat wisata pantai yang lainnya yang tidak rasional, ” Agung

Agung mengatakan yang lebih ironisnya dari informasi dan investigasi yang kami temukan adanya dugaan pemungutan liar yang terjadi di kecamatan Cikeusik, tepat nya di Desa Curug Ciung, tempat wisata bendungan Cikoncang karena perlu di ketahui wisatawan yang masuk melalui jalur lintas Curug ciung itu di kenakan tarif oleh sekelompok orang yang memegang karcis yang didalam karcis tersebut bertuliskan logo karang taruna dan logo pemerintah Desa, ”

Padahal faktanya wisata tersebut masuk dalam wilayah Kabupaten Lebak dan yang banyak di kunjungi itu tempat yang berada di sebrang jembatan kabupaten Lebak, ”

Menurut pengakuan para pedagang yang ingin melintas dan berjualan di bendungan tersebut yang melintasi jalur tersebut itu harus bayar karcis masuk, kalau tidak mau harus mutar jalan jangan masuk lewat depan, bahkan petani yang ingin bertani melewati jalur tersebut itu harus bayar karcis luar biasa kabupaten konoha ini,”

” Sekelompok orang yang Jaga karcis atau yang jaga akses jalan!!! Mengatakan lamun endung bayar ulah lewat die ka,, muter ka wanasalam wae ” tuturnya dengan nada tinggi

Saat para pedagang yang kami wawancarai mereka mengaku, betul bahwasanya kami pinta ucap pedagang dan petani, ” Kami mah bayar wae kang, dari pada rame haliwu kang ucapnya”

Himpunan mahasiswa islam HMI Cabang Pandeglang menduga adanya A buse of Power pejabat daerah dari tatanan Desa, kecamatan hingga dengan Kabupaten dalam pengelolaan wisata tersebut serta lemahnya pengawasan, pembinaan Disbudpar pandeglang, dan Aparat keamanan baik tingkat polsek hingga polres kabupaten pandeglang, ”

Kami minta segera lakukan tindakan tegas terhadap oknum- oknum yang tidak bertanggungjawab agar terciptanya kenyamanan, keamanan serta ketertiban masyarakat khusus nya wisatawan yang berkunjung ke tempat wisata, ” Tutup HMI Cabang Pandeglang

 

Komentar