Tutup Iklan
Berita

Benua Biru Demam Ganti Dekorasi, Jateng Ekspor Furnitur ke Belgia

101
×

Benua Biru Demam Ganti Dekorasi, Jateng Ekspor Furnitur ke Belgia

Sebarkan artikel ini
Benua Biru Demam Ganti Dekorasi, Jateng Ekspor Furnitur ke Belgia

SEMARANG, BERITARAYA.ID – Demam mengganti dekorasi yang belakangan ini dilakukan warga Eropa selama work from home (WFH) akibat pandemi Covid-19, dimanfaatkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan melepas 393 unit furnitur dengan nilai Rp113,19 juta ke Belgia. Selama 12 bulan, produk dari enam UMKM itu akan dipamerkan di Gedung Borgerhub.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah Ema Rachmawati mengatakan, rencana ekspor produk kayu ke Belgia telah dibahas sejak awal 2021. Ia menyebut, sebelum diberangkatkan ratusan produk furnitur itu telah dikurasi untuk menyesuaikan dengan selera pasar setempat.

Berita Ini Di Sponsorin Oleh :
Scroll Ke Bawah Untuk Lihat Konten

Baca Juga : Biak Numfor Ekspor Perdana Ikan Ke Singapura

Dikatakan, pengiriman produk ke Belgia dilakukan pada medio tahun ini. Namun, pihak perajin mengalami kendala bahan baku. Mulanya, produk yang akan dikirim bervolume 42 feet kontainer. Namun, kali ini hanya bisa mengekspor 20 feet kontainer.

“Contohnya untuk meja dari bahan kayu fosil. Mulanya dipesan 100 unit. Namun tidak bisa memenuhi karena bahan meja dari besi, waktu itu terkendala pemenuhan oksigen untuk proses lasnya. Kan waktu itu oksigennya untuk kebutuhan rumah sakit,” ujarnya, seusai pelaksanaan ekspor di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Jumat (29/10/2021).

Meskipun demikian, kegiatan tersebut tetap dilaksanakan. Mengingat, di masa pandemi Covid-19, yang mengharuskan warga bekerja dari rumah, warga Eropa tengah gandrung mengganti perabot rumah.

“Di sana ya sudah menunggu. Kalau begitu yang ada ya diberangkatkan dulu. karena di masa pandemi, orang Eropa kan bongkar rumah. Furnitur mereka diganti. Kalau lama bisa telat. Yang penting kita bisa berpameran di bulan Desember,” imbuhnya.

Selain kendala itu, proses ekspor ke Belgia juga terkendala biaya perkapalan. Karena, di masa pandemi, cost shipping ke luar negeri sangat mahal. Untuk biaya perkapalan dan promosi kegiatan ini, diperlukan dana sekitar 14.818,40 euro atau Rp2.495.164.000.

Alhamdulillah Bank Indonesia dapat membantu, karena kami dari Pemprov Jateng tidak mampu memenuhi,” imbuhnya.

Selain Bank Indonesia, kata Ema, kegiatan itu turut didukung oleh Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo), Kamar Dagang Indonesia (Kadin) serta Belgia n Codesignhub-Belgium. Ketiga organisasi ini dan Pemprov Jateng akan membentuk Badan Promosi dan Pemasaran-Codesignhub di Antwerp Belgia.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengapresiasi upaya tersebut. Ia menyebut, proses ekspor ke Belgia saat pandemi Covid-19, memerlukan perjuangan berat.

“Kita akan ekspor ke Belgia ini rumit minta ampun. Pertama dari UMKM-nya, kedua kontainernya sulit. Kemudian kita pikirkan biaya promosi di Belgia. Dengan lobby panjang ini merupakan hasil akhir yang bisa kita dapatkan,” ujarnya.

Ganjar berharap, dengan ekspor ini bisa membuka jalan bagi UMKM Jateng lainnya.

“Ini sulit, rumit berdarah-darah. Namun hasil kerja dari kawan-kawan akhirnya berhasil. Ini akan kita replikasi, mudah-mudahan untuk kedua, ketiga, dan keempat jauh lebih baik. Insyaallah lebih gampang karena sudah ada pengalaman,” paparnya.

Selain ke Belgia, produk UMKM Jateng juga diminati oleh tiga negara, yakni Jepang, Australia dan India. Untuk pasar Jepang, produk yang telah lolos kurasi adalah kain lukis dan kerajinan enceng gondok. Produk tersebut nantinya akan dipamerkan di pusat perbelanjaan Tsurya dan Mitsukoshi.

Sementara untuk pasar Sydney dan Perth di Australia, tengah dilakukan identifikasi produk food and beverage, aksesoris, handicraft, fesyen batik tulis, tenun, briket, plastik, jas hujan, dan sebagainya. Adapun, untuk pasar Mumbai di India produk yang diminati adalah bumbu eksotis, seperti kayu manis, jahe, kunyit, teh, kopi vanila dan merica.