Tutup Iklan
Kolom & Opini

Indonesia Pemain Kunci Nikel Dunia

×

Indonesia Pemain Kunci Nikel Dunia

Sebarkan artikel ini

Oleh : Eko Sulistyo

Tekad Indonesia untuk menjadi pemain kunci komoditas nikel skala global, kembali ditegaskan Presiden Joko Widodo, saat memperingati hari jadi sebuah partai, pertengahan Januari lalu. Dalam kesempatan yang sama, Presiden ketujuh itu menjelaskan, pemerintah akan menambah daftar komoditas yang dilarang ekspor sebelum diolah. Hal ini guna menghasilkan nilai tambah dan membuka lapangan kerja seluas-luasnya.

Berita Ini Di Sponsorin Oleh :
Scroll Ke Bawah Untuk Lihat Konten

Saat ini pemerintah juga sedang mempertimbangkan untuk memberlakukan pajak ekspor progresif untuk komoditas nikel, terutama dengan kandungan nikel rendah seperti Nickel Pig Iron (NPI) dan Feronikel (FeNi). Pemberlakuan pajak nikel ini selain untuk mempertahankan masa pakai tambang nikel di Tanah Air, juga menjadi bagian dari strategi beralih dari pengiriman bahan baku.

Indonesia adalah produsen terbesar nikel di dunia. Depositnya mencapai jumlah 21 juta metrik ton (MT), disusul Australia dengan cadangan nikel sebesar 20 juta MT. Menurut Statista (2021), Nickel Reserves Worldwide By Country 2020, total cadangan nikel global berjumlah sekitar 94 juta MT pada 2020.

Nikel banyak digunakan untuk membuat baja tahan karat atau stainless steel. Ketika harga nikel global melonjak ke level tertinggi sejak sepuluh tahun lalu, seperti di London Metal Exchange (LME) maupun di Shanghai Futures Exchange (ShFE), menarik perhatian investor. Selain karena defisit pasokan stok, kenaikan itu akibat permintaan yang meningkat untuk kendaraan listrik (Reuters, 12/1/2022). Nikel adalah material inti pembuatan baterai, komponen termahal dalam kendaraan listrik.

Baterai sendiri menyumbang 5% dari permintaan, tetapi menurut para analis, bisa meningkat menjadi 30% pada 2040. Karena ada kesadaran luas pentingnya nikel dalam transisi energi. Apalagi perlombaan menuju emisi nol atau Net Zero Emission, telah menjadi semacam Green New Deal dalam tata kelola global saat ini.

Strategi Pemanfaatan

Bagi Indonesia, meningkatnya produksi nikel yang telah diproses merupakan keunggulan signifikan sebagai dampak moratorium ekspor bijih mentah. Berinvestasi dalam proses pemurnian (refinery) dalam negeri akan memiliki nilai tambah dan lebih menguntungkan dari sisi harga. Strategi pengelolaan nikel Indonesia adalah bagian dari strategi pembangunan berbasis komoditas negara, sesuai amanah konstitusi, khususnya pasal 33 UUD 1945.

Menurut Isabelle Huber, Indonesia’s Nickel Industrial Strategy (CSIS, 2021), Indonesia akan menyumbang sekitar setengah dari pertumbuhan produksi nikel global antara 2021 dan 2025. Keberhasilan proyek HPAL (high pressure acid leach), yaitu pengolahan nikel secara hidrometalurgi, terutama di Morawali, Sulawesi Tengah dan Halmahera Timur, akan menjadi kunci pasokan nikel global untuk baterai di masa depan.

Indonesia juga sudah berancang-ancang dengan target yang lebih ambisius, yaitu hilirisasi nikel untuk baterai mobil listrik, yang harganya di pasar dunia sangat kompetitif. Indonesia memiliki kepentingan yang lebih strategis dalam pemanfaatan nikel. Jadi kebijakan moratorium ekspor nikel memiliki dasar dan argumentasi yang logis, baik dari perhitungan ekonomi maupun politik.

Kita paham kecemasan sejumlah negara importir terkait kebutuhan dalam manufaktur baja tahan karat. Sebagai negara importir, selama ini sudah banyak menikmati pasokan bijih nikel dari berbagai negara, salah satunya dari Indonesia. Moratorium ekspor bisa dibaca sebagai wujud kedaulatan negara atas minerba (mineral dan batubara), dalam hal ini nikel, termasuk kobalt.

Kobalt juga merupakan komponen pembentuk (precursor) baterai mobil listrik. Senyawa kobalt baru muncul saat pemurnian (smelting) nikel. Berdasar pertimbangan ekonomis, adalah hak Indonesia melakukan moratorium, dan sudah sejak lama muncul kesadaran, ekspor bijih nikel mentah harus berhenti total, karena harganya sangat murah.

Kapasitas Smelter

Nikel akan menjadi salah satu keping masa depan Indonesia. Menurut International Nickel Study Group (INSG, 2021), permintaan nikel global diperkirakan akan meningkat menjadi 3,04 juta ton pada 2022, dari 2,77 juta ton pada 2021. Peningkatan permintaan ini sebagian didorong pemulihan ekonomi paska Covid-19 di seluruh dunia.

Output nikel global diperkirakan akan meningkat menjadi 3,12 juta ton dari 2,64 juta ton, dan keseimbangan pasar pada 2022 adalah surplus 76.000 ton. Surplus ini penting bagi produsen baja tahan karat, yang mengandalkan logam tersebut untuk produksinya, serta untuk baterai kendaraan listrik. Peluang ini harus dapat dimanfaatkan Indonesia untuk meningkatkan kapasitas smelternya.

Menguatnya harga nikel skala global juga merupakan stimulan bagi penambang dan pelaku industri nikel di tanah air untuk meningkatkan produksinya. Salah satunya adalah PT Antam Tbk yang hampir menyelesaikan smelter feronikel Haltim dengan kapasitas 13.500 ton per tahun. Termasuk PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) di Morawali, dengan kapasitas produksi 1,8 juta ton feronikel per tahun.

Pemerintah juga akan menambah smelter nikel untuk meningkatkan kapasitas nikel olahan. Seperti disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, pada Press Release, 25 November 2021, dari 19 smelter yang beroperasi saat ini, 13 di antaranya adalah smelter nikel. Jumlah ini akan ditambah 17 sehingga akan ada 30 smelter nikel dengan nilai investasi USD 8 miliar.

Pengoperasian smelter ini membutuhkan infrastruktur dan pasokan listrik yang dapat meningkatkan pengembangan wilayah Indonesia Timur. Peningkatan nilai tambah nikel dan mineral olahan ini juga mendorong pertumbuhan daerah sekaligus berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) lebih tinggi. Nikel akan memberikan kontribusi besar, seiring kontribusinya yang terus meningkat dengan beroperasinya smelter.

Indonesia patut bersyukur karena dilimpahi sejumlah sumber daya alam dan mineral yang berlimpah. Bahkan, “harta karun” nikel Indonesia merupakan terbesar dibandingkan negara lainnya. Para penambang nikel Indonesia harus meningkatkan kapasitas smelternya untuk mengekspor nikel olahan.

Dalam program besar hilirisasi nikel ini, kedaulatan negara atas minerba, kembali diuji. Pada titik ini kita kembali mengingat diksi Presiden Joko Widodo, soal kontrol Indonesia atas nikel, saat meresmikan smelter ore nikel di Kabupaten Konawe dan Morowali Utara, akhir Desember tahun lalu.

Ketika era mobil listrik segera datang, Indonesia berpeluang besar masuk dalam industri mobil listrik sebagai produsen utama baterai lithium. Transisi ke kendaraan listrik akan membentuk permintaan dan rantai pasok baterai. Sehingga pertumbuhan cepat teknologi baterai dan kendaraan listrik, yang bersumber dari mineral nikel, berpotensi mengubah geopolitik global.

* Penulis adalah Komisaris PT PLN (Persero).